Sabtu, 09 Maret 2013

Definisi Sehat


Sehat adalah kondisi normal seseorang yang merupakan hak hidupnya. Sehat berhubungan dengan hukum alam yang mengatur tubuh, jiwa, dan lingkungan, berupa udara segar, sinar matahari, diet seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan, serta pikiran, kebiasaan dan gaya hidup yang baik.
Selama beberapa dekade, definisi sehat masih dipertentangkan dan belum ada kata sepakat dan para ahli kesehatan maupun tokoh masyarakat dunia. Akhirnya World Health Organization (WHO) membuat definisi universal yang menyatakan bahwa, “Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity”. Artinya sehat adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.

Menurut WHO ada empat komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam definisi sehat, yaitu:
1.      Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
2.      Sehat Mental
Sehat Mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat (Mens Sana In Corpore Sano)”.
Atribut seorang insan yang memiliki mental yang sehat adalah sebagai berikut:
a.      Selalu merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya, tidak pernah menyesal dan kasihan terhadap dirinya, selalu gembira, santai dan menyenangkan, serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan.
b.      Dapat bergaul dengan baik dan dapat menerima kritik, serta tidak mudah tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi terhadap kebutuhan emosi orang lain.
c.       Dapat mengontrol diri dan tidak mudah emosi, serta tidak mudah takut, cemburu, benci serta menghadapi dan dapat menyelesaikan masalah secara cerdik dan bijaksana.
3.      Kesejahteraan Sosial
Batasan kesejahteraan sosial yang ada di setiap tempat atau negara sulit diukur dan sangat tergantung pada kebudayaan dan tingkat kemakmuran masyarakat setempat. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.
4.      Sehat Spiritual
Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.

Keempat komponen ini dikenal sebagai sehat positif atau disebut sebagai “Positive Health” karena lebih realistis dibandingkan dengan definisi WHO yang hanya bersifat idealistik semata-mata.
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
1.      Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2.      Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
3.      Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

Berikut ini akan dikemukakan definisi sehat menurut beberapa ahli:
1.      Pepkins, mendefinisikan sehat sebagai keadaan keseimbangan yang dinamis dari badan dan fungsi-fungsinya sebagai hasil penyesuaian yang dinamis terhadap kekuatan-kekuatan yang cenderung menggangunya. Badan seseorang bekerja secara aktif untuk mempertahankan diri agar tetap sehat sehingga kesehatan selalu harus dipertahankan.
2.      Paune (1983), mengatakan sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care resources) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care resources : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual.
3.      Pender (1982), sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.
4.      Konsep sehat, yang dikemukakan oleh Linda Ewles & Ina Simmet (1992), yang dikutip oleh A.E. Dumatubun dalam Jurnal Antropologi Papua 2002, seperti berikut:
a.      Konsep sehat dilihat dari segi jasmani, yaitu dimensi sehat yang paling nyata karena perhatiannya pada fungsi mekanisme tubuh.
b.      Konsep sehat dari segi mental, yaitu kemampuan berpikir dengan jernih dan koheren. Istilah mental dibedakan dengan emosional dan sosial walaupun ada hubungan yang dekat di antara ketiganya.
c.       Konsep sehat dilihat dari segi emosional, yaitu kemampuan untuk mengenal emosi seperti takut, kenikmatan, kedukaan, dan kemarahan, dan untuk mengekspresikan emosi-emosi secara cepat.
d.      Sehat dilihat dari segi sosial, berarti kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
e.      Konsep sehat dilihat dari aspek spiritual, yaitu berkaitan dengan kepercayaan dan praktek keagamaan, berkaitan dengan perbuatan baik secara pribadi, prinsip-prinsip tingkah laku, dan cara mencapai kedamaian dan merasa damai dalam kesendirian.
f.        Konsep sehat dilihat dari segi societal, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang melingkupi individu tersebut. Adalah tidak mungkin menjadi sehat  dalam masyarakat yang “sakit” yang tidak dapat menyediakan sumber-sumber untuk pemenuhan kebutuhan dasar  dan emosional. (Djekky,2001: 8)
5.      Larry Green & para koleganya, menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. 
6.      Menurut UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, menyatakan bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
7.      Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam musyawarah Nasional Ulama tahun 1983, merumuskan kesehatan sebagai ketahanan ‘jasmaniah, ruhaniyah, dan sosial’ yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunan-Nya, dan memelihara serta mengembangkannya.


Sumber: 

Senin, 03 Desember 2012

Maaf Atas Ketidaksadaranku


Tak pernah sekalipun aku sadar telah menuntun hatiku untuk sampai di hadapanmu, memasukkanmu di dalamnya dan menetapkanmu di sana. Maaf, aku tak pernah bermaksud untuk itu. Sungguh tak pernah sekalipun.

Mendapatimu di hadapanku memang bukan sekedar suatu kebetulan tapi bukan pula kesengajaanku, sungguh. Hari demi hari yang terlewati denganmu tak sadar aku masukkan ke dalam dokumen kumpulan momen yang paling menyenangkan untukku. Aku sendiri tak tau apa alasan untuk itu.

Tersenyum untuk setiap tingkahmu dan tertawa untuk setiap candamu tak sadar selalu kulakukan disela kesedihanku. Seolah tercermin kaulah pensil warna di lembaran hidupku kini. Dengan sedikit guratan merah jambu berpadu dengan biru laut menghasilkan warna rindu. Rindu akan canda demi canda baru yang akan kau lontarkan. Ini juga terjadi tanpa kesadaranku.

Ekspresi menunggu bercampur khawatir dan gelisah saat tak kudapati pesan darimu di handphoneku, walau hanya untuk beberapa jam. Berdiam diri menunggu handphone berbunyi dan yang kudapati bukan namamu di sana, kecewaku datang. Tak sadar aku telah melakukannya, menjadi seorang penunggu yang setia hanya untuk sebuah pesan teks darimu.

Demi Tuhan, aku tak pernah sadar akan hal ini apalagi sampai sengaja melakukannya. Tidak, tidak sama sekali. Sungguh.

Aku tak pernah sadar menjadikanmu cahaya lilin di setiap kegelapanku yang bermuara pada kebahagiaan di setiap kehadiranmu.

Maaf, semua terjadi begitu saja tanpa kusadari dan tanpa kusengaja. Sungguh. Tapi, apakah semua kebahagiaan didapati secara sengaja dan disadari?

Minggu, 18 November 2012

Dampak Buruk Kemudahan Mengakses Internet


        
 
      Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan terlebih pada bidang telekomunikasi dan informatika, kini manusia bisa berkomunikasi antar wilayah dengan lebih mudah. Bukan hanya via telepon ataupun SMS, namun juga via media sosial seperti YM, Twitter, Facebook, Skype, dll. Kemudahan ini bisa kita dapatkan cukup dengan memiliki telepon genggam yang bisa mengakses internet, tak peduli waktu (bisa digunakan di segala waktu) dan suasana. Hampir semua provider telah menyediakan berbagai paket internet dengan harga yang cukup terjangkau.
        Tentunya dengan segala kemudahan yang telah ada akibat kemajuan teknologi, masyarakat tidak akan menyia-nyiakannya. Terutama pada usia remaja, usia remaja yang tergolong memiliki emosi labil memanfaatkan secara ‘habis-habisan’ kemudahan ini. Menggunakan gadget sejak bangun tidur hingga akan tidur lagi. Terlebih pada sosial media seperti facebook dan twitter. Mereka mengekspresikan perasaan serta kegiatan mereka secara bebas di sosial media.
     Memang tidak ada larangan untuk memposting sesuatu di internet selama tidak mengandung SARA, tetapi kini terlihat sudah berlebihan para remaja yang terlalu mengekspos kehidupan pribadinya di media sosial. Seperti contoh, seorang remaja yang ketika ingin pergi makan ia memposting terlebih dahulu di twitter dan facebook lalu sesampainya di tempat makan ia mempostingnya di foursquare setelah makanannya datang ia memfotonya terlebih dahulu lalu di upload ke instagram yang telah otomatis tersambung ke twitter dan facebook, dst. Bukankah itu sudah berlebihan? Menurut saya itu sangat berlebihan.
        Tanpa disadari dengan segala sesuatu yang telah mereka posting dapat memudahkan orang yang berniat jahat untuk mengetahui kegiatan serta keberadaan mereka. Maka tidak jarang timbul kasus penculikan yang bersumber dari media sosial. Biasanya kasus ini dialami oleh remaja wanita. Cukup dengan mengetahui keberadaannya, penculik bisa mencari target dengan mengamati foto yang terdapat di media sosialnya.
       Sesuatu yang dipostingpun dapat menimbulkan kecemburuan sosial, tidak sedikit remaja yang mengumbar foto-foto barang mewah atau berada di tempat-tempat berkelas. Namun, tidak sedikit juga remaja yang tidak bisa merasakan hal tersebut. Sehingga tanpa disadari banyak timbul kecemburuan sosial yang bermula dari media sosial.
      Bukan hanya media sosial, tetapi kemudahan mengakses game online juga memiliki berbagai dampak. Namun, disini saya tidak akan menjelaskan hal tersebut karena saya sudah mengulasnya pada tulisan sebelumnya.
       Sadarkah kita bahwa hal-hal yang telah saya sebutkan di atas bermula dari kecanduan? Untuk sebagian orang yang belum terlalu akut mungkin menyadarinya, tetapi untuk yang sudah sangat akut menganggap bahwa itu semua hanyalah sekedar rutinitas harian yang sayang bila dilewatkan. Apapun yang akan dilakukan harus dilaporkan ke media sosial, melebihi kewajiban lapor ke RT/RW yang baru lakukan saat sudah melebihi 24 jam.
        Kecanduan akan internet ini tentulah hal yang negatif. Seperti kata pepatah “sagala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik”. Kalau sudah begini, lingkungan luas akan merasakan dampaknya. Kemudahan yang telah tercipta terkadang malah menjadi kesulitan dikemudian harinya. Seperti kemudahan mengakses internet yang bisa berpengaruh ke kondisi psikologis seseorang lalu meluas ke lingkungan sekitarnya.
        Seperti yang sudah diketahui, untuk menyembuhkan kecanduan bukanlah hal mudah. Jadi, kalau masih bisa dicegah mengapa harus repot mengobati bukan? Mulailah dari diri sendiri untuk bisa mencegah lalu barulah ajak orang-orang di sekitar.
     Untuk yang masih menggunakan internet dalam taraf wajar, pertahankanlah jangan sampai menjadi berlebihan. Sedangkan untuk yang mulai ketergantungan, mulailah membatasi diri untuk mempergunakan internet seperti memberi jadwal untuk mengakses internet hanya pada waktu-waktu tertentu. Ajak orang sekitarmu untuk mengingatkan. Namun, untuk yang sudah kecanduan ada baiknya mulai mengurangi waktu untuk mengakses internet. Jika tidak ingin berkonsultasi pada ahlinya (pada kasus ini mungkin psikolog yang bisa membantu) maka berjanjilah pada diri sendiri bahwa tanpa bantuan para ahlipun kecanduan tersebut bisa sembuh.
        Mengingat pepatah asal cina, semua bersumber dari diri sendiri. Bermula dari mengubah diri sendiri untuk menjadi lebih baik lalu menyebar ke lingkungan sampai akhirnya duniapun bisa berubah menjadi lebih baik dengan adanya perubahan dari setiap individu di dalamnya.