Senin, 13 Mei 2013

Kepribadian Sehat Menurut Rogers

·         Pendekatan Rogers Terhadap Kepribadian
Tidak seperti Allport, yang datanya semata-mata diperoleh dari studi tentang orang-orang dewasa yang matang dan sehat, Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien-pasien ini (dia lebih suka menyebut mereka “klien-klien”), Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli terapi (seperti dalam pendekatan Freud). Karena itu disebut “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Jelas, metode ini menganggap bahwa individu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banyak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia.
Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Menurutnya, orang yang sehat adalah orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi dapat memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan.

·         Motivasi Orang yang Sehat: Aktualisasi
Rogers menempatkan suatu dorongan dalam sistemnya tentang kepribadian: memeliharakan, mengaktualisasikan dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis.
Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi itu memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan jasmaniah dasar.
Akan tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripada organisme: aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan.

·         Perkembangan Diri (Self)
Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari hal-hal lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept).
Sebagai bagian dari self concept, anak itu juga menggambarkan  dia akan menjadi siapa atau mungkin ingin menjadi siapa. Gambaran-gambaran itu dibentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya interaksi-interaksi dengan orang lain. Dengan mengamati reaksi dari orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran-gambaran diri yang konsisten, suatu keseluruhan yang terintegrasi di mana kemungkinan adanya beberapa ketidakharmonisan antara diri sebagaimana adanya dan diri sebagaimana yang mungkin diinginkannya untuk menjadi diperkecil. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri muncullah suatu pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu yang mendapat gangguan emosional.
Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini sebagai penghargaan positif (positive regard).
Positive Regard, yaitu suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, yang dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat tergantung pada sejauh mana kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
Self Concept, self concept yang berkembang pada anak sangat dipengaruhi oleh ibu, bagaimana anak mendapatkan kasih sayang atau tidak dari seorang ibu.
Conditional Positive Regard, kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik.
Unconditional Positive Regard, syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku.

·         Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Roger berpendapat bahwa kepribadian yang sehat, yaitu bukan merupakan suatu keadaan yang ada, melainkan suatu proses “suatu arah bukan suatu tujuan”. Aktualisasi berlangsung terus dan statis. Tujuan, yakni orientasi ke masa depan, menarik individu kedepan dan mengembangkan segala segi dari diri.
Aktualisasi diri merupakan proses yang sukardan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan ujian, rentangan, dan pecutan terus menerus terhadap kemampuan seseorang.
Aktualisasi diri yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi dibalik topeng, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sebenarnya.
Roger memberikan lima tanda-tanda orang yang melakukan aktualisasi diri:
1.      Keterbukaan pada pengalaman
Kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya kepribadian defensif beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, tersembunyi dibelakang peran-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional karena mereka mengalami banyak emosi baik yang positif maupun negatif.
2.      Kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, aktualisasi diri, akan hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan karena ia terbuka pada setiap pengalaman. Pengalaman selalu dirasa segar dan baru. Ia tidak akan beperasangka dan mudah menyesuaikan diri terhadap pengalaman sehingga tidak harus memanipulasi apa yang dialaminya sehingga mereka dapat dengan bebas berpartisipasi didalamnya. Menurut Rogers, kehidupan eksistensial ini merupakan ciri terpenting kepribadian yang melakukan aktualisasi diri/keperibadian yang sehat.
3.      Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Orang yang sehat akan terbuka pada pengalaman sehingga ia menerima semua informasi yang ada, informasi dapat berisi kebutuhan-kebutuhan, tuntutan-tuntutan sosial, ingatan-ingatan pada situasi yang serupa pada masa sekarang. Faktor emosional maupun intelektual, akan menyerap semua informasi yang diterima. Hal ini menjadikannya dalam membuat keputusan dapat mempercayai organismenya sendiri, intuisinya, impuls-impuls yang timbul seketika. Ia menjadi spontan namun tidak terburu-buru (tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakan). Ia percaya dirinya sendiri.
4.      Perasaaan bebas
Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Ia memiliki perasaan berkuasa secara peribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku keadaan atau peristiwa masa lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa, ia menjadi mampu melihat banyaknya pilihan dalam kehidupan dan mampu melakukan pilihan-pilihan tersebut sesuai kehendaknya.
5.      Kreativitas
Roger percaya bahwa, orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi lingkungan, mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menggulangi perubahan-perubahan traumatis.

Sumber:
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Sabtu, 20 April 2013

Konsep Manusia dalam Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistik

Ø  Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisa



 
 

 Dipelopori oleh Sigmund Freud yang merumuskan psikologi manusia di mana kepribadian manusia merupakan totalitas, bukan bagian-bagian yang terpisah. Menurut Freud (1923), pikiran kita memiliki tiga struktur, yaitu Id, Ego dan Superego.
Ketiga struktur ini membentuk psyche (bahasa Yunani dari “jiwa”) dan ketiganya secara terus-menerus berinteraksi sata sama lain secara dinamis. Freud menggunakan istilah psikodimanika untuk menggambarkan proses interaksi antara struktur kepribadian yang terjadi di balik perilaku yang dapat terobservasi.

·         Id adalah struktur kepribadian yang mengandung insting seksual dan agresif yang oleh Freud disebut sebagai suatu ‘kawah yang mendidih’. Tidak dapat menembus area sadar, Id berada sepenuhnya pada lapisan tidak sadar. Id mengikuti prinsip kenikmatan, suatu kekuatan yang mendorong ke arah pemenuhan segera terhadap kebutuhan dan nafsu seksual. Menurut Freud, kenikmatan hanya dapat diperoleh ketika tekanan terhadap suat keinginan atau hasrat berkurang. Upaya Id untuk mencapai kepuasan tidak perlu melalui pemberian penghargaan yang nyata terkait dengan kebutuhan yang dirasakan. Id menggunakan prinsip harapan pemenuhan kebutuhan untuk mencapai kepuasan. Freud (1911) menggunakan frasa proses berpikir primer untuk menggambarkan secara bebas asosiasi, keanehan dan representasi kognitif yang menyimpang tentang dunia yang dimiliki oleh Id.
·          Pusat kesadaran dalam kepribadian adalah Ego. Ego berfungsi untuk memberikan kekuatan mental kepada individu untuk membuat penilaian, memori, persepsi dan pengambilan keputusan yang membantu individu untuk beradaptasi terhadap realitas yang ada di dunia luar. Hal ini berbeda dengan Id yang tidak mampu membedakan fantasi dan realitas. Ego diperlukan untuk mengubah suatu harapan ke pemenuhan yang nyata. Freud (1911) menggambarkan ego sebagai suatu yang dibangun atas prinsip realitas, suatu kekuatan motivasi yang mendorong individu untuk menghadapi tekanan dari dunia luar. Berlawanan dengan proses berpikir primer tidak logis yang dimiliki oleh Id, fungsi ego dicirikan dengan proses berpikir sekunder yang melibatkan proses penyelesaian masalah secara logis dan rasional.
·         Superego, sebagaimana namanya, berada di ‘atas’ ego mengontrol usaha yang dilakukan ego untuk memenuhi hasrat Id. Freud percaya bahwa tanpa superego, seseorang akan mencari kepuasan terhadap hasrat Id melalui cara yang tabu atau secara sosial tidak dapat diterima. Superego juga disebut sebagai hati nurani seseorang dan berlaku sebagai pemberi inspirasi. Termasuk di dalamnya adalah ego ideal yang merupakan model individual mengenai bagaimana seseorang seharusnya bertingkah laku.
Kesimpulannya, menurut Freud (1923), dalam kepribadian seseorang yang sehat, Id mencapai hasrat insting melalui kemampuan ego untuk mengarahkannya di dunia nyata dalam suatu lingkung yang diizinkan oleh superego.

Ø  Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme



Behaviorisme menganalisa perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Teori kaum behaviorisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia –kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan, yang kemudian timbul konsep ‘manusia misteri’.
Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna didapat dari penglaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan menuju pengetahuan.
Penglaman adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku yang kemudian dibuktikan Watson bersama Rosale Rayner membuat eksperimen menimbulkan dan menghilangkan rasa takut yang dilakukan pada Albert dengan tikusnya.
Albert yang suka dengan tikus kemudian mendapat perlakuan dipukul ketika dia mendekati tikus, sampai akhirnya dia trauma dengan tikus eksperimen Albert bukan saja membuktikan betapa muridnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning), yaitu memasangkan stimuli yang netral atau stimuli terkondisi (tikus putih) dengan stimuli tertentu (yang tidak terkondisikan –unconditioned stimulus) yang melahirkan perilaku tertentu (unconditioned response). Skinner membuat eksperimen dengan menggunakan merpati. Bila kaki merpati menyentuh tombol maka akan turun makanannya.
Bandura menambahkan konsep belajar sosial. Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku manusia yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme pelaziman atau peneguhan. Misalnya, anak berusia dua tahun dapat berbicara dalam bahasa ibunya. Kaum behaviorisme tradisional menjelaskan hawa kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan dengan lambang atau objek yang punya makna (pelaziman klasik). Mula-mula anak mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak bermakna, kemudian orang tua secara selektif meneguhkan ucapan yang bermakna. Menurut Bandura, belajar terjadi karena peniruan (imitation).

Ø  Konsepsi Manusia dalam Psikologi Humanistik


 
Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Pada behaviorisme dan psikoanalisa. Pada behaviorisme manusia hanyalah masin yang dibentuk lingkungannya, manusia sebagai robot tanpa juwa dan tanpa nilai. Pada psikoanalisa manusia dipengaruhi oleh naluri primitifnya. Keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia.
Pendekatan ini menekankan bahwa masing-masing individu memiliki kemerdekaan yang besar untuk mengarahkan masa depannya, kapasitas yang luas untuk mengembangkan pribadi, nilai intrinsik dan potensinya yang sangat besar untuk emenuhan diri (self-fulfillment).
Fenomenologi memandang manusia, manusia hidup dalam ‘dunia kehidupan’ yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri; alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.
Perhatian pada makna kehidupan adalah juga hal yang membedakan psikologi humanistik dari mahzab yang lain. Manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna. Terkadang manusia sering bertanya; apakah hidupnya bermakna?
Manusia bukan sekedar mekanisme atau hasil proses pelaziman, manusia adalah wujud yang selalu mencari makna, dia bahwa hatinya selalu resah sebelum menemukan makna dalam hidupnya. Menurut Franki asumsi-asumsi psikologi humanistik; keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya.
Terkait dengan pandangan  Rogers mengenai seseorang yang berfungsi penuh adalah teori yang dikemukakan oeh Abraham Maslow (1962) yang menekankan aktualisasi diri, pencapaian maksimal dari potensi perkembangan psikologi seseorang. Sebelum mencapai aktualisasi diri, individu perlu melewati tahap pemenuhan:
·         Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
·         Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs/the security needs)
·         Kebutuhan rasa cinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
·         Kebutuhan akan penghargaan (the self-esteem needs)
·         Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
Kebutuhan-kebutuhan tersebut dikatakan berhierarki karena kebutuhan yang lebih tinggi menuntut dipenuhi apabila kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah sudah terpenuhi.

Sumber:
Halgin, Richard P., Whitbourne, Susan Krauss. (2009). Abnormal Psychology: Clinical Perspectives on Psychological Disorders, 6thed. New York:  McGraw Hill.
Basuki, Heru A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Gusfa, Henni. Modul 3: Psikologi Komunikasi. Jakarta: Universitas Mercu Buana.


Sabtu, 09 Maret 2013

Definisi Sehat


Sehat adalah kondisi normal seseorang yang merupakan hak hidupnya. Sehat berhubungan dengan hukum alam yang mengatur tubuh, jiwa, dan lingkungan, berupa udara segar, sinar matahari, diet seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan, serta pikiran, kebiasaan dan gaya hidup yang baik.
Selama beberapa dekade, definisi sehat masih dipertentangkan dan belum ada kata sepakat dan para ahli kesehatan maupun tokoh masyarakat dunia. Akhirnya World Health Organization (WHO) membuat definisi universal yang menyatakan bahwa, “Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity”. Artinya sehat adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.

Menurut WHO ada empat komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam definisi sehat, yaitu:
1.      Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
2.      Sehat Mental
Sehat Mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat (Mens Sana In Corpore Sano)”.
Atribut seorang insan yang memiliki mental yang sehat adalah sebagai berikut:
a.      Selalu merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya, tidak pernah menyesal dan kasihan terhadap dirinya, selalu gembira, santai dan menyenangkan, serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan.
b.      Dapat bergaul dengan baik dan dapat menerima kritik, serta tidak mudah tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi terhadap kebutuhan emosi orang lain.
c.       Dapat mengontrol diri dan tidak mudah emosi, serta tidak mudah takut, cemburu, benci serta menghadapi dan dapat menyelesaikan masalah secara cerdik dan bijaksana.
3.      Kesejahteraan Sosial
Batasan kesejahteraan sosial yang ada di setiap tempat atau negara sulit diukur dan sangat tergantung pada kebudayaan dan tingkat kemakmuran masyarakat setempat. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.
4.      Sehat Spiritual
Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.

Keempat komponen ini dikenal sebagai sehat positif atau disebut sebagai “Positive Health” karena lebih realistis dibandingkan dengan definisi WHO yang hanya bersifat idealistik semata-mata.
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
1.      Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2.      Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
3.      Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

Berikut ini akan dikemukakan definisi sehat menurut beberapa ahli:
1.      Pepkins, mendefinisikan sehat sebagai keadaan keseimbangan yang dinamis dari badan dan fungsi-fungsinya sebagai hasil penyesuaian yang dinamis terhadap kekuatan-kekuatan yang cenderung menggangunya. Badan seseorang bekerja secara aktif untuk mempertahankan diri agar tetap sehat sehingga kesehatan selalu harus dipertahankan.
2.      Paune (1983), mengatakan sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care resources) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care resources : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual.
3.      Pender (1982), sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.
4.      Konsep sehat, yang dikemukakan oleh Linda Ewles & Ina Simmet (1992), yang dikutip oleh A.E. Dumatubun dalam Jurnal Antropologi Papua 2002, seperti berikut:
a.      Konsep sehat dilihat dari segi jasmani, yaitu dimensi sehat yang paling nyata karena perhatiannya pada fungsi mekanisme tubuh.
b.      Konsep sehat dari segi mental, yaitu kemampuan berpikir dengan jernih dan koheren. Istilah mental dibedakan dengan emosional dan sosial walaupun ada hubungan yang dekat di antara ketiganya.
c.       Konsep sehat dilihat dari segi emosional, yaitu kemampuan untuk mengenal emosi seperti takut, kenikmatan, kedukaan, dan kemarahan, dan untuk mengekspresikan emosi-emosi secara cepat.
d.      Sehat dilihat dari segi sosial, berarti kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
e.      Konsep sehat dilihat dari aspek spiritual, yaitu berkaitan dengan kepercayaan dan praktek keagamaan, berkaitan dengan perbuatan baik secara pribadi, prinsip-prinsip tingkah laku, dan cara mencapai kedamaian dan merasa damai dalam kesendirian.
f.        Konsep sehat dilihat dari segi societal, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang melingkupi individu tersebut. Adalah tidak mungkin menjadi sehat  dalam masyarakat yang “sakit” yang tidak dapat menyediakan sumber-sumber untuk pemenuhan kebutuhan dasar  dan emosional. (Djekky,2001: 8)
5.      Larry Green & para koleganya, menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. 
6.      Menurut UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, menyatakan bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
7.      Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam musyawarah Nasional Ulama tahun 1983, merumuskan kesehatan sebagai ketahanan ‘jasmaniah, ruhaniyah, dan sosial’ yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunan-Nya, dan memelihara serta mengembangkannya.


Sumber: