Minggu, 30 Juni 2013

Keterkaitan Abnormalitas dengan Konsep Motivasi, Stress, dan Gender

Ø  Definisi Abnormalitas
Abnormalitas dapat didefinisikan sebagai suatu ketidaknormalan yang dilihat oleh seorang yang normal. Atau dalam kata lain, abnormalitas merupakan suatu keanehan yang terjadi di lingkungan orang-orang normal. Abnormalitas dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika kita melihat seseorang dengan gangguan jiwa. Mengapa kita menganggapnya sebagai suatu yang abnormal? Karena kita merasa diri kita tidak melakukan atau bertindak seperti yang mereka lakukan.
Ø  Dimensi Abnormalitas
Abnormalitas disebabkan oleh tiga dimensi, yaitu:
·      Penyebab Biologis
Dalam usaha memahami penyebab perilaku abnormal, para ahli kesehatan mental dengan hati-hati mengevaluasi apa yang terjadi di tubuh seseorang yang dapat dihubungkan ke warisan genetis atau gangguan fungsi fisik. Sebagai komponen rutin dalam setiap evaluasi, Dr.Tobin melakukan penilaian sampai sejauh mana masalah yang kelihatannya disebabkan secara emosional dapat dijelaskan dalam kerangka determinan biologis. Memahami peran faktor biologis sebagai penyebab penting juga membuat Dr.Tobin mewaspadai fakta bahwa ia mungkin perlu menggabungkan komponen biologis seperti obat – obatan dalam intervensinya. Sebagaimana terdapat pada banyak gangguan medis, berbagai gangguan psikologis terjadi di keluarga. Gangguan depresi mayor merupakan salah satu dari gangguan-gangguan ini. Seorang anak lelaki atau perempuan dari orang tua yang menderita depresi, secara statistik memiliki kemungkinan mengalami depresi yang lebih besar daripada mereka yang orangtuanya tidak menderita depresi. Sebagai tambahan dalam menjelaskan peran faktor genetis, paran klinisi juga mempertimbangkan bahwa perilaku abnormal mungkin saja merupakan akibat dari gangguan fungsi fisik. Gangguan semacam itu dapat muncul dari berbagai sumber, seperti kondisi medis, kerusakan otak, atau paparan jenis stimulan tertentu di lingkungan. Banyak kondisi medis yang dapat menyebabkan seseorang merasa dan bertindak abnormal. Sebagai contoh, abnormalitas medis di kelenjar tiroid dapat menyebabkan rentang kondisi mood dan emosi yang beragam. Kerusakan otak yang diakibatkan oleh trauma kepala meskipun ringan, dapat mengakibatkan perilaku aneh dan perubahan emosi yang intens. Sama halnya dengan pencernaan zat-zat, baik obat terlarang maupun pengobatan yang diizinkan, dapat mengakibatkan perubahan emosi dan perilaku yang menyerupai gangguan psikologis. Bahkan, paparan stimulan lingkungan seperti zat beracun atau zat penyebab alergi dapat menyebabkan seseorang mengalami perubahan emosi dan perilaku yang mengganggu.
·         Penyebab Psikologis
Jika faktor biologis dapat memberikan semua jawaban, maka kita akan menganggap gangguan mental sebagai penyakit medis. Sesungguhnya, hal ini tidak hanya sekedar itu saja. Gangguan umumnya muncul sebagai akibat pengalaman hidup yang bermasalah. Mungkin sebuah peristiwa satu jam yang lalu, tahun lalu, atau saat ini dalam hidup seseorang telah meninggalkan bekas yang menyebabkan perubahan dramatis pada perasaan atau perilaku. Misalnya, komentar merendahkan dari seorang profesor dapat meninggalkan perasaan terluka pada seorang mahasiswa dan menyebabkan depresi selama berhari-hari. Kekecewaan dalam hubungan asmara dapat menimbulkan respons emosional yang intens selama berbulan-bulan. Sebuah trauma yang terjadi bertahun-tahun yang lalu dapat terus memperngaruhi pikiran, perilaku, dan bahkan mimpi seseorang. Pengalaman hidup juga berkontribusi terhadap gangguan dapat menyebabkan individu membentuk asosiasi negatif terhadap stimulus tertentu. Sebagai contoh, kekuatan irasional pada ruangan sempit mungkin muncul karena pernah terjebak di dalam elevator. Oleh karena itu, dalam mengevaluasi penyebab psikologis pada abnormalitas, para ilmuwan sosial dan klinisi mempertimbangkan pengalaman hidup seseorang. Sebagian besar pengalaman tersebut bersifat interpersonal-kejadian-kejadian yang terjadi karena interaksi dengan orang lain. Namun, orang juga memiliki pengalaman intrapsikis, pengalaman yang terjadi di dalam pikiran dan perasaannya. Masalah-masalah emosional dapat muncul dari persepsi yang terdistorsi dan cara berpikir yang salah.
·         Penyebab Sosiokultural
Siapa diri kita sebagian besar ditentukan oleh interaksi interpersonal yang terjadi di lingkaran pusat kehidupan kita. Istilah sosiokultural mengacu pada berbagai lingkaran pengaruh sosial dalam hidup seseorang. Sebagian besar lingkaran tengah terdiri dari orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan kita di tingkat lokal. Bagi mahasiswa perguruan tinggi, orang-orang ini bisa jadi teman sekamar, rekan kerja, dan teman sekelas yang mereka temui secara teratur. Lingkaran yang lebih luar dari lingkaran tengah adalah mereka yang mendiami lingkaran hubungan yang lebih luas, seperti anggota keluarga di rumah atau teman-teman di sekolah menengah atas. Lingkaran ketiga terdiri dari orang-orang di lingkungan kita yang hanya berinteraksi dengan kita secara minimal dan kurang kita kenal namanya, mungkin penghuni komunitas kita atau kampus yang standarnya, harapannya, dan perilakunya mempengaruhi hidup kita. Lingkaran sosial keempat adalah budaya yang lebih luas, tempat kita hidup seperti masyarakat Amerika. Abnormalitas, dapat pula disebabkan oleh kejadian-kejadian pada salah satu atau keseluruhan konteks sosial tersebut. Hubungan yang bermasalah dengan teman sekamar atau anggota keluarga dapat mengakibatkan seseorang merasa sangat tertekan. Hubungan asmara yang gagal dapat menyebabkan depresi yang memungkinkan tindakan bunuh diri. Keterlibatan dalam hubungan yang mengandung kekerasan dapat menyebabkan gaya interpersonal ketika orang yang mengalami kekerasan berulang kali terjerat hubungan dengan orang yang suka menyakiti dan merusak. Dibesarkan oleh orang tua yang sadis dapat pula menyebabkan seseorang membangun pola hubungan yang dicirikan dengan kontrol dan luka emosional. Huru-hara politik, bahkan pada level yang relatif lokal, dapat memunculkan emosi dari kecemasan yang mengganggu hingga ketakutan yang tak tertahankan. Bagi beberapa orang, penyebab abnormalitas lebih luas, mungkin bersifat kultural atau sosial. Misalnya, pengalaman diskriminasi memiliki pengaruh yang besar terhadap seseorang dari kelompok minoritas, baik menyangkut ras, budaya, orientasi seksual atau kecacatan.
Ø  Keterkaitan Abnormalitas dengan Konsep Motivasi
Konsep motivasi merupakan konsep yang dimiliki setiap individu. Konsep motivasi ini berarti suatu konsep dalam diri yang berupa dorongan untuk melakukan suatu tindakan. Hubungan antara abnormalitas itu sendiri dengan konsep motivasi sebenarnya tergantung pada sudut pandang yang kita pilih untuk menjelaskannya. Abnormalitas seseorang bisa saja mempengaruhi konsep motivasinya. Seorang yang abnormal berarti memiliki suatu kelainan di mata masyarakat umum. Kelainan ini membuat dirinya tidak dapat berfungsi secara optimal atau dikatakan “tidak sehat”. Seseorang yang tidak sehat tentu saja tidak mampu memenuhi tuntutan lingkungan atau tuntutan hidup, misalnya memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan atas penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri seperti yang diungkapkan dalam hirarki kebutuhan Maslow. Sedangkan kelima kebutuhan tersebut berkaitan erat dengan motivasi individu dalam kehidupan. Maka, seorang yang abnormal  dapat dikatakan memiliki konsep motivasi yang menyimpang dari apa yang dialami oleh seorang yang normal. Bahkan bisa saja konsep motivasi dirinya tidak lagi berkiblat pada hal-hal yang positif, dan malah menjurus pada hal-hal yang merugikan dirinya sendiri.
Ø  Keterkaitan Abnormalitas dengan Stress
Seseorang yang mengalami abnormalitas dapat disebabkan oleh stress, dan sebaliknya stress dapat disebabkan oleh abnormalitas. Hal ini berkaitan dengan penyebab sosiokultural. Seseorang bisa saja mengalami abnormalitas, seperti trauma atau depresi karena sebelumnya mengalami stress yang berkepanjangan. Saat dia mengalami tekanan dalam dirinya atau dihadapkan pada suatu tekanan dari lingkungan sosialnya dan tidak bisa menghadapi atau mengontrol dirinya, maka hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya abnormalitas seperti depresi atau skizofrenia. Sebaliknya, seseorang yang memang abnormal yang membuatnya tidak diterima di lingkungannya atau disisihkan menyebabkan ia mengalami stress dan pada akhirnya mungkin saja menambah dan memperparah abnormalitas orang tersebut.
Ø  Keterkaitan Abnormalitas dengan Gender
Banyak sekali kasus-kasus abnormalitas yang kita temui atau kita ketahui. Faktanya, kasus abnormalitas tersebut banyak terjadi pada kaum pria. Misalnya saja ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), menurut penelitian Breton yang dilakukan pada 1999, ADHD lebih banyak dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan, dengan estimasi 2-4% untuk anak perempuan dan 6-9% untuk anak laki-laki usia 6-12 tahun. Selanjutnya Asperger Syndrome yang merupakan gejala autisme, Berdasarkan perkiraan yang dikutip situs webmd.com, sindrom ini dialami oleh 0,024 hingga 0,36 persen dari anak-anak. Gangguan ini lebih umum dialami laki-laki dibandingkan perempuan dan biasanya terdiagnosis saat anak berusia antara dua dan enam tahun. Berdasarkan fakta-fakta tersebut umumnya laki-laki lebih banyak mengalami abnormalitas dibanding wanita. Hal ini dapat dijelaskan secara biologis, dimana terdapat perbedaan kromosom dan susunan genetik antara laki-laki dan perempuan yang memungkinkan laki-laki lebih banyak mewarisi abnormalitas secara genetik dibandingkan dengan perempuan. Selain itu kasus lain adalah mengenai bunuh diri yang banyak terjadi, tidak hanya di negara berkembang namun juga di negara-negara maju seperti Amerika. Faktanya lebih banyak pria mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dibandingkan dengan wanita. Jika dijelaskan dengan pendekatan sosiokultural, tuntutan lingkungan/masyarakat terhadap seorang pria jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Hal ini mengakibatkan banyak pria merasa gagal untuk memenuhi tuntutan tersebut dan mengalami depresi yang berujung pada bunuh diri.

Sumber:
Halgin, Richard P., Whitbourne, Susan Krauss. (2009). Abnormal Psychology: Clinical Perspectives on Psychological Disorders, 6thed. New York:  McGraw Hill.

Senin, 13 Mei 2013

Kepribadian Sehat Menurut Rogers

·         Pendekatan Rogers Terhadap Kepribadian
Tidak seperti Allport, yang datanya semata-mata diperoleh dari studi tentang orang-orang dewasa yang matang dan sehat, Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien-pasien ini (dia lebih suka menyebut mereka “klien-klien”), Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli terapi (seperti dalam pendekatan Freud). Karena itu disebut “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Jelas, metode ini menganggap bahwa individu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banyak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia.
Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Menurutnya, orang yang sehat adalah orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi dapat memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan.

·         Motivasi Orang yang Sehat: Aktualisasi
Rogers menempatkan suatu dorongan dalam sistemnya tentang kepribadian: memeliharakan, mengaktualisasikan dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis.
Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi itu memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan jasmaniah dasar.
Akan tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripada organisme: aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan.

·         Perkembangan Diri (Self)
Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari hal-hal lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept).
Sebagai bagian dari self concept, anak itu juga menggambarkan  dia akan menjadi siapa atau mungkin ingin menjadi siapa. Gambaran-gambaran itu dibentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya interaksi-interaksi dengan orang lain. Dengan mengamati reaksi dari orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran-gambaran diri yang konsisten, suatu keseluruhan yang terintegrasi di mana kemungkinan adanya beberapa ketidakharmonisan antara diri sebagaimana adanya dan diri sebagaimana yang mungkin diinginkannya untuk menjadi diperkecil. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri muncullah suatu pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu yang mendapat gangguan emosional.
Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini sebagai penghargaan positif (positive regard).
Positive Regard, yaitu suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, yang dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat tergantung pada sejauh mana kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
Self Concept, self concept yang berkembang pada anak sangat dipengaruhi oleh ibu, bagaimana anak mendapatkan kasih sayang atau tidak dari seorang ibu.
Conditional Positive Regard, kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik.
Unconditional Positive Regard, syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku.

·         Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Roger berpendapat bahwa kepribadian yang sehat, yaitu bukan merupakan suatu keadaan yang ada, melainkan suatu proses “suatu arah bukan suatu tujuan”. Aktualisasi berlangsung terus dan statis. Tujuan, yakni orientasi ke masa depan, menarik individu kedepan dan mengembangkan segala segi dari diri.
Aktualisasi diri merupakan proses yang sukardan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan ujian, rentangan, dan pecutan terus menerus terhadap kemampuan seseorang.
Aktualisasi diri yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi dibalik topeng, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sebenarnya.
Roger memberikan lima tanda-tanda orang yang melakukan aktualisasi diri:
1.      Keterbukaan pada pengalaman
Kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya kepribadian defensif beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, tersembunyi dibelakang peran-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional karena mereka mengalami banyak emosi baik yang positif maupun negatif.
2.      Kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, aktualisasi diri, akan hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan karena ia terbuka pada setiap pengalaman. Pengalaman selalu dirasa segar dan baru. Ia tidak akan beperasangka dan mudah menyesuaikan diri terhadap pengalaman sehingga tidak harus memanipulasi apa yang dialaminya sehingga mereka dapat dengan bebas berpartisipasi didalamnya. Menurut Rogers, kehidupan eksistensial ini merupakan ciri terpenting kepribadian yang melakukan aktualisasi diri/keperibadian yang sehat.
3.      Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Orang yang sehat akan terbuka pada pengalaman sehingga ia menerima semua informasi yang ada, informasi dapat berisi kebutuhan-kebutuhan, tuntutan-tuntutan sosial, ingatan-ingatan pada situasi yang serupa pada masa sekarang. Faktor emosional maupun intelektual, akan menyerap semua informasi yang diterima. Hal ini menjadikannya dalam membuat keputusan dapat mempercayai organismenya sendiri, intuisinya, impuls-impuls yang timbul seketika. Ia menjadi spontan namun tidak terburu-buru (tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakan). Ia percaya dirinya sendiri.
4.      Perasaaan bebas
Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Ia memiliki perasaan berkuasa secara peribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku keadaan atau peristiwa masa lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa, ia menjadi mampu melihat banyaknya pilihan dalam kehidupan dan mampu melakukan pilihan-pilihan tersebut sesuai kehendaknya.
5.      Kreativitas
Roger percaya bahwa, orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi lingkungan, mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menggulangi perubahan-perubahan traumatis.

Sumber:
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Sabtu, 20 April 2013

Konsep Manusia dalam Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistik

Ø  Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisa



 
 

 Dipelopori oleh Sigmund Freud yang merumuskan psikologi manusia di mana kepribadian manusia merupakan totalitas, bukan bagian-bagian yang terpisah. Menurut Freud (1923), pikiran kita memiliki tiga struktur, yaitu Id, Ego dan Superego.
Ketiga struktur ini membentuk psyche (bahasa Yunani dari “jiwa”) dan ketiganya secara terus-menerus berinteraksi sata sama lain secara dinamis. Freud menggunakan istilah psikodimanika untuk menggambarkan proses interaksi antara struktur kepribadian yang terjadi di balik perilaku yang dapat terobservasi.

·         Id adalah struktur kepribadian yang mengandung insting seksual dan agresif yang oleh Freud disebut sebagai suatu ‘kawah yang mendidih’. Tidak dapat menembus area sadar, Id berada sepenuhnya pada lapisan tidak sadar. Id mengikuti prinsip kenikmatan, suatu kekuatan yang mendorong ke arah pemenuhan segera terhadap kebutuhan dan nafsu seksual. Menurut Freud, kenikmatan hanya dapat diperoleh ketika tekanan terhadap suat keinginan atau hasrat berkurang. Upaya Id untuk mencapai kepuasan tidak perlu melalui pemberian penghargaan yang nyata terkait dengan kebutuhan yang dirasakan. Id menggunakan prinsip harapan pemenuhan kebutuhan untuk mencapai kepuasan. Freud (1911) menggunakan frasa proses berpikir primer untuk menggambarkan secara bebas asosiasi, keanehan dan representasi kognitif yang menyimpang tentang dunia yang dimiliki oleh Id.
·          Pusat kesadaran dalam kepribadian adalah Ego. Ego berfungsi untuk memberikan kekuatan mental kepada individu untuk membuat penilaian, memori, persepsi dan pengambilan keputusan yang membantu individu untuk beradaptasi terhadap realitas yang ada di dunia luar. Hal ini berbeda dengan Id yang tidak mampu membedakan fantasi dan realitas. Ego diperlukan untuk mengubah suatu harapan ke pemenuhan yang nyata. Freud (1911) menggambarkan ego sebagai suatu yang dibangun atas prinsip realitas, suatu kekuatan motivasi yang mendorong individu untuk menghadapi tekanan dari dunia luar. Berlawanan dengan proses berpikir primer tidak logis yang dimiliki oleh Id, fungsi ego dicirikan dengan proses berpikir sekunder yang melibatkan proses penyelesaian masalah secara logis dan rasional.
·         Superego, sebagaimana namanya, berada di ‘atas’ ego mengontrol usaha yang dilakukan ego untuk memenuhi hasrat Id. Freud percaya bahwa tanpa superego, seseorang akan mencari kepuasan terhadap hasrat Id melalui cara yang tabu atau secara sosial tidak dapat diterima. Superego juga disebut sebagai hati nurani seseorang dan berlaku sebagai pemberi inspirasi. Termasuk di dalamnya adalah ego ideal yang merupakan model individual mengenai bagaimana seseorang seharusnya bertingkah laku.
Kesimpulannya, menurut Freud (1923), dalam kepribadian seseorang yang sehat, Id mencapai hasrat insting melalui kemampuan ego untuk mengarahkannya di dunia nyata dalam suatu lingkung yang diizinkan oleh superego.

Ø  Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme



Behaviorisme menganalisa perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Teori kaum behaviorisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia –kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan, yang kemudian timbul konsep ‘manusia misteri’.
Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna didapat dari penglaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan menuju pengetahuan.
Penglaman adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku yang kemudian dibuktikan Watson bersama Rosale Rayner membuat eksperimen menimbulkan dan menghilangkan rasa takut yang dilakukan pada Albert dengan tikusnya.
Albert yang suka dengan tikus kemudian mendapat perlakuan dipukul ketika dia mendekati tikus, sampai akhirnya dia trauma dengan tikus eksperimen Albert bukan saja membuktikan betapa muridnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning), yaitu memasangkan stimuli yang netral atau stimuli terkondisi (tikus putih) dengan stimuli tertentu (yang tidak terkondisikan –unconditioned stimulus) yang melahirkan perilaku tertentu (unconditioned response). Skinner membuat eksperimen dengan menggunakan merpati. Bila kaki merpati menyentuh tombol maka akan turun makanannya.
Bandura menambahkan konsep belajar sosial. Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku manusia yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme pelaziman atau peneguhan. Misalnya, anak berusia dua tahun dapat berbicara dalam bahasa ibunya. Kaum behaviorisme tradisional menjelaskan hawa kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan dengan lambang atau objek yang punya makna (pelaziman klasik). Mula-mula anak mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak bermakna, kemudian orang tua secara selektif meneguhkan ucapan yang bermakna. Menurut Bandura, belajar terjadi karena peniruan (imitation).

Ø  Konsepsi Manusia dalam Psikologi Humanistik


 
Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Pada behaviorisme dan psikoanalisa. Pada behaviorisme manusia hanyalah masin yang dibentuk lingkungannya, manusia sebagai robot tanpa juwa dan tanpa nilai. Pada psikoanalisa manusia dipengaruhi oleh naluri primitifnya. Keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia.
Pendekatan ini menekankan bahwa masing-masing individu memiliki kemerdekaan yang besar untuk mengarahkan masa depannya, kapasitas yang luas untuk mengembangkan pribadi, nilai intrinsik dan potensinya yang sangat besar untuk emenuhan diri (self-fulfillment).
Fenomenologi memandang manusia, manusia hidup dalam ‘dunia kehidupan’ yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri; alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.
Perhatian pada makna kehidupan adalah juga hal yang membedakan psikologi humanistik dari mahzab yang lain. Manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna. Terkadang manusia sering bertanya; apakah hidupnya bermakna?
Manusia bukan sekedar mekanisme atau hasil proses pelaziman, manusia adalah wujud yang selalu mencari makna, dia bahwa hatinya selalu resah sebelum menemukan makna dalam hidupnya. Menurut Franki asumsi-asumsi psikologi humanistik; keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya.
Terkait dengan pandangan  Rogers mengenai seseorang yang berfungsi penuh adalah teori yang dikemukakan oeh Abraham Maslow (1962) yang menekankan aktualisasi diri, pencapaian maksimal dari potensi perkembangan psikologi seseorang. Sebelum mencapai aktualisasi diri, individu perlu melewati tahap pemenuhan:
·         Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
·         Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs/the security needs)
·         Kebutuhan rasa cinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
·         Kebutuhan akan penghargaan (the self-esteem needs)
·         Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
Kebutuhan-kebutuhan tersebut dikatakan berhierarki karena kebutuhan yang lebih tinggi menuntut dipenuhi apabila kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah sudah terpenuhi.

Sumber:
Halgin, Richard P., Whitbourne, Susan Krauss. (2009). Abnormal Psychology: Clinical Perspectives on Psychological Disorders, 6thed. New York:  McGraw Hill.
Basuki, Heru A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Gusfa, Henni. Modul 3: Psikologi Komunikasi. Jakarta: Universitas Mercu Buana.